Kiandra.

Salah satu hal yang paling saya senang lakukan adalah mengkhayalkan masa depan. Ketika saya mengkhayalkan nama anak saya nanti--salahkan Ibu saya yang selalu berkhayal tentang anak saya kelak--seringkali saya terpikirkan sebuah nama.

Awalnya nama itu berupa Nihil. Satu kata yang menurut orang lain berarti "nothing", "ketiadaan" dan sejenisnya, namun entah mengapa selalu terdengar indah di telinga saya. Saya suka nama Nihil, namun kasihan bila seorang anak harus menanggung nama tanpa doa yang positif. Karena hingga saat ini saya belum menemukan makna positif di balik arti nama Nihil. Namun begitu, Nihil terdengar magis dan powerful bagi saya. Ada makna yang tak terjangkau di dalamnya.

Lalu entah mulai kapan, saya menyukai nama Kiandra, selain Nagisa.
Kiandra berarti Ratu, sama halnya dengan Diandra. Dua nama yang sering saya gunakan dalam tulisan-tulisan fiksi saya.
Nagisa, sebuah nama yang terdengar feminin dan manis. Cantik. Rapuh. Sebuah nama yang berarti "bibir pantai", derivat dari salah satu nama panggilan saya "Kai" yang berarti "Laut".

Tulisan ini saya buat karena saya memimpikan akan anak perempuan yang manis bernama Kiandra. Meskipun nama itu sudah agak pasaran karena di kalangan civitas FKH IPB pun sudah ada beberapa orang yang menamai anak mereka dengan nama itu, namun saya tetap menyukainya. Mau bagaimana lagi, saya kan belum menikah, sudah tentu Kiandra saya belum bisa terlahir saat ini. :(

Namun mengingat khayalan tentang nama anak saya kelak, saya pun teringat akan kisah dari Suku Himba di Namibia, Afrika. Di sana, tanggal lahir seorang anak tidak ditentukan dari waktu ia terlahir ke dunia, namun dari tanggal di mana Ibunya mulai memikirkan akan dirinya. Ketika seorang wanita berpikir akan memiliki anak, ia akan pergi dan duduk berdiam diri di bawah pohon hingga lagu khusus untuk anaknya terdengar dalam benak. Lalu wanita tersebut akan mencari pria yang akan menjadi ayah dari anaknya, kemudian mengajarkan lagu tersebut kepadanya. Lalu pada saat mereka berkonsepsi, pasangan suami istri pun akan menyanyikan lagu tersebut bersama-sama seolah-olah mengundang sang anak untuk lahir ke dunia.

Bagi saya, hal itu terlihat indah dan yeah, so sweet. :)
Saya mungkin tidak pernah memiliki lagu untuk Kiandra yang terlintas dalam benak saya, namun bila usia anak ditentukan dari waktu ia mulai terbersit di benak ibunya, maka Kiandra telah ada sejak saya menginjak bangku SMP. Dan kini, yang saya perlukan adalah mengajarkan tentang Kiandra kepada calon ayahnya.

So until we meet, see you soon my darling, Kiandra. :)