Penanganan Medis Pada Reptil


Beberapa bulan lalu saya berkesempatan untuk mengikuti seminar dan workshop di Universitas Airlangga mengenai penanganan medis reptil. Narasumber yang dihadirkan pada seminar ini adalah drh Slamet Raharjo dari FKH UGM yang sangat berkompeten di bidang satwa eksotis, drh  yang membahas kasus stomatitis dari segi gambaran patologi dan komunitas pecinta reptil ASPERA yang mendemonstrasikan cara handling dan restraint ular. Seminar ini pada dasarnya membahas dasar-dasar perbedaan anatomi dan fisiologi reptil, serta tata cara pemeriksaan reptil yang penting untuk diketahui oleh dokter hewan sebelum menangani pasien reptil. Pada umumnya, kegagalan dalam pengobatan reptil disebabkan oleh minimnya info dan pengalaman dokter hewan dalam menangani pasien eksotis, terutama reptil, yang dewasa ini semakin marak menjadi hewan kesayangan.

Reptil merupakan hewan berdarah dingin dengan suhu tubuh yang sangat dipengaruhi oleh suhu lingkungan. Hal ini tentu sangat berbeda dengan fisiologis mamalia. Selain itu, reptil dibedakan menjadi 4 jenis, yaitu Testudina/Chelonia, Saurian, Ophidia/Serpentes, dan Crocodylia sehingga penting pula diperhatikan perbedaan antar jenis reptil agar tidak terjadi kesalahan pengobatan.


Adapun, prinsip dasar tata cara pemeriksaan reptil meliputi hal-hal berikut:
1. Registrasi, meliputi nomor registrasi, tanggal, nama hewan, nama pemilik dan alamat, serta kontak pemilik.  

2. Signalemen, meliputi ras, jenis kelamin, tanda spesifik.
 
3. Anamnesa, meliputi sejarah lalu (asal hewan, lama dipelihara, dsb) dan sejarah terkini (lingkungan, kandang, pakan, onset penyakit, perubahan yang terjadi, penanganan yang sudah diberikan, dsb).
 
4. Restrain dan handling yang dapat berupa restrain fisik dan restrain kimiawi. Restrain fisik dilakukan dengan manual (satu tangan atau dua tangan) ataupun dengan alat seperti jaring, snake hook, grab stik, dan tabung khusus ular. Untuk reptil yang dicurigai kurang jinak atau berbahaya, sangat disarankan menggunakan alat agar terhindar dari resiko cedera. Restrain kimiawi dapat dilakukan dengan menggunakan zat sedativum atau anastetikum, namun bila tidak terlalu perlu maka lebih disarankan untuk menggunakan restrain fisik.  
5. Pemeriksaan fisik yang terdiri dari:  Inspeksi dan adspeksi dari jarak jauh dan dekat;  Palpasi dengan tangan  Auskultasi dengan fonendoskop atau stetoskop Perkusi dengan palu perkusi   · Perlu diperhatikan pula perbedaan anatomi antar jenis reptil (terutama posisi organ reptil), spesifikasi spesies, fisiologi, pakan, habitat, siklus reproduksi, perilaku spesies, dan aturan-aturan tertentu dalam pemeriksaan
6.  Koleksi sampel bila diperlukan untuk pemeriksaan laboratorium. Sampel dapat berupa darah, urin, feses, swab, dan kerokan kulit.

7.  Pemeriksaan laboratorium, bila diperlukan.

8.  Penentuan diagnosa berdasarkan hasil temuan.

9.  Rencana terapi dan pengobatan.

Reptil jenis Testudina ataupun Chelonia (kura-kura dan penyu) memiliki karakteristik tubuh berupa karapas yang menutupi tubuh bagian atas dan plastron yang menutupi tubuh bagian bawah. Pada beberapa spesies, leher dan kaki dapat dimasukkan secara sempurna ke dalam cangkang. Ekstremitas terdiri dari 5 jari dan 5 kuku untuk kaki depan, serta 5 jari dan 3-5 kuku untuk kaki belakang. Pada spesies tertentu seperti penyu laut dan kura-kura tertentu, kaki mereka tidak memiliki jari. 
Kura-kura memiliki jantung dengan dua atrium dan 1 ventrikel, sementara organ respirasi mereka terdiri dari paru-paru dengan dua lobus. Alat pencernaan terdiri dari lambung, hati, usus halus, kolon, rectum, dan kloaka. Sementara alat reproduksi terdiri dari ovarium, oviduk, dan kloaka pada betina, testis dan hemipenis pada jantan.  Untuk handling kura-kura, dokter hewan cukup memegangnya pada sisi kiri dan kanan cangkang dengan satu tangan ataupun dua tangan. Perlu diperhatikan bahwa kura-kura cenderung untuk menggigit benda (dalam hal ini tangan) yang ada di hadapannya, sehingga perlu berhati-hati agar tangan pemegang tidak terjangkau oleh kepala kura-kura.
Sementara untuk penanganan biawak, perlu diperhatikan agar tidak terkena cakarnya yang tajam. Restraint pada buaya cukup dengan mengikat ujung moncongnya, namun tetaplah berhati-hati karena gigi buaya sangat tajam dan kuat. Perlu diketahui pula bahwa moncong atas buaya sulit digerakkan dan kuat sehingga jangan pernah mencoba untuk menarik anggota tubuh yang tergigit buaya karena luka akan semakin parah. Sisi baiknya, bila moncong atas berhasil ditahan, maka buaya tidak akan dapat menggigit. Buaya dan alligator memiliki 5 jari depan dan 4 jari belakang. Buaya juga memiliki nostril yang dapat ditutup ketika berada dalam air. 

Pada ular, anatomi tubuhnya dapat dibagi menjadi 3 regio, yaitu regio depan, regio tengah, dan regio belakang. Pada regio depan, terdapat trachea, esophagus, dan jantung. Sementara di regio tengah terdapat organ hati, paru-paru, dan lambung. Pada regio belakang dapat ditemukan usus halus, pancreas, limpa, kantung empedu, kelenjar adrenal, ginjal, organ reproduksi, dan kloaka. Pada ular betina, di belakang kloaka dapat ditemukan kelenjar musk, sementara pada ular jantan dapat ditemukan hemipenis.  
 Dalam workshop dan seminar reptil ini juga dipaparkan tata cara sexing atau pemeriksaan jenis kelamin pada reptil dengan metode visual, poping, dan probing. Sexing dengan metode visual dilakukan dengan melihat ukuran ekor. Pada umumnya, ekor reptil jantan berbentuk memanjang dengan pangkal membesar, sementara reptil betina memiliki ekor pendek meruncing. Hal ini berlaku untuk ular, kura-kura, dan biawak (saurian). Pada kura-kura, metode visual juga dapat dilakukan dengan membandingkan bentuk serta ukuran anal plate. Pada kura-kura jantan, anal plate berbentuk konkaf dan jaraknya dengan ekor lebih jauh. Sementara pada kura-kura betina, anal plate berbentuk konveks dan jaraknya dengan ekor lebih dekat.
Metode popping utamanya dilakukan pada ular dengan cara menekan area pangkal ekor ke arah kranial sehingga hemipenis terdorong keluar. Ular jantan ditandai dengan adanya hemipenis yang menyembul keluar, sementara pada ular betina tidak akan ditemui hemipenis saat dilakukan popping. Pada metode probing, sebuah probe tumpul yang ukurannya telah disesuaikan dengan ukuran tubuh ular dimasukkan ke arah kaudal ekor melalui bagian lateral kloaka hingga terasa membentur ujung kloaka. Kemudian probe dikeluarkan dari kloaka dan dibandingkan dengan jumlah baris sisik di kaudal kloaka. Pada ular jantan, probe dapat masuk ke dalam hemipenis yang panjangnya setara dengan 10-12 baris sisik. Sementara pada ular betina, probe dapat masuk ke dalam kelenjar musk yang panjangnya setara dengan 2-3 baris sisik. Metode probing pada buaya dilakukan dengan menggunakan jari pemeriksa.

Dalam workshop ini kami juga dihadapkan dengan reptil dengan kasus sehingga kami dapat belajar tata cara pemeriksaan secara langsung. Kelompok saya mendapatkan pasien seekor ular sanca dengan keluhan tidak mau makan, diare selama 3 hari terakhir, dan lesu. Hasil pemeriksaan detak jantung menunjukkan frekuensi denyut jantungnya normal yaitu sekitar 20 kali per menit. Suara denyut jantung ular cenderung lebih lambat dibandingkan dengan mamalia seperti anjing dan kucing yang biasa kami hadapi, selain itu suaranya tidak terlalu jelas karena letak jantung ular dapat berpindah ke kiri dan ke kanan akibat tidak terfiksasi dengan sempurna. Untuk menyiasatinya, proses auskultasi ular dapat menggunakan bantuan kain atau tisu untuk melapisi regio tubuh ular yang akan diauskultasi sehingga suara denyut jantung lebih jelas terdengar. Penentuan lokasi jantung sebelum dilakukannya auskultasi dapat dilakukan dengan palpasi di 1/3 regio depan tubuh. Denyut jantung akan terasa pada saat dipalpasi dengan jari tangan.

Frekuensi pernapasan kami amati dengan cara mengamati pergerakan costae dan abdomen ular, terutama di 1/3 regio tengah tubuh (tempat paru-paru berada). Kami juga memeriksa gerakan kepala dan lidah, rostrum, lubang hidung, kulit antar sisik, dan rongga mulut. Ginggiva ular tersebut berwarna pink pucat, namun menjadi sedikit merah akibat terluka oleh stik besi yang digunakan untuk membuka rahang ular. Tidak ditemukan ptechie atau edema, juga tidak ditemukan adanya tanda-tanda stomatitis pada gigi, lidah, dan glottis. Kami juga memeriksa elastisitas kulit dan hasil menunjukkan gejala dehidrasi.
Setelah pemeriksaan fisik selesai dilakukan, kami membuat diagnosis dan perencanaan terapi yang meliputi pemberian infus NaCl untuk mengembalikan keseimbangan elektrolit, serta pemberian biosalamine. Pemberian infus dilakukan secara P

Kasus lain yang kami hadapi adalah kasus kecacingan pada ular pucuk. Bila umumnya cacing berada di dalam tubuh hewan, maka cacing yang kami temukan ini berada tepat di bawah sisik ular. Terapi yang kami terapkan merupakan terapi manual dengan cara mengambil cacing-cacing tersebut satu per satu. Kami juga diajarkan cara mengambil darah dan pemberian obat secara parenteral pada kura-kura.

Sayang sekali saya tidak mendokumentasi kegiatan ini karena saya tidak membawa kamera. :( Overall, menurut saya acara seperti ini sangat bermanfaat bagi mahasiswa kedokteran hewan, baik yang akan terjun sebagai praktisi hewan kecil dan eksotik maupun praktisi satwaliar. Semoga bermanfaat.