Know Your Enemy: Parvovirus

Infeksi Parvovirus pada Anjing (source: Cornell University 2007)

Tulisan ini saya buat karena pada praktikum IBKV I yang lalu, sebanyak 7 ekor anjing dari total 16 ekor anjing yang digunakan untuk praktikum dicurigai terinfeksi parvovirus. Oleh karena itu, untuk mencegah terulangnya kejadian yang sama di masa depan, saya bermaksud untuk berbagi pengetahuan mengenai virus tersebut.

Parvovirus merupakan virus anggota Famili Parvoviridae dan merupakan virus terkecil dari semua agen viral. Virus ini memiliki diameter 20 nanometer, tidak punya selubung, simetri icosahedral, dan memiliki single-strand DNA.
Parvovirus dapat menyerang anjing dalam segala usia, namun umumnya lebih rentan menginfeksi anjing usia muda (2-6 bulan) karena sifatnya yang aktif berbiak pada jaringan dengan kemampuan memperbanyak sel (mitosis) yang tinggi seperti sel usus, sumsum tulang, jantung, dan jaringan limfoid (Ettinger 1983 dalam Windarwati 1984). Virus ini diduga merupakan hasil mutasi dari Feline Panleukopenia Virus (FPV) atau Mink Enteritis Virus (MEV) karena secara antigenik, virus-virus tersebut identik dan dapat terjadi imunisasi silang (Moraillon 1980).

Virus Parvo umumnya menyebabkan dua macam sindrom penyakit pada anjing, yaitu enteritis (tipe pencernaan) dan myocarditis (tipe jantung) sehingga berakibat fatal. Virus ini ditularkan melalui kontak secara langsung dengan anjing penderita, maupun secara tidak langsung melalui feses, urin, saliva, dan muntahan anjing penderita yang berkontak dengan anjing lain atau terbawa oleh manusia. Virus ini juga dapat ditularkan dari induk ke anaknya setelah lahir.
Periode inkubasi virus parvo di dalam tubuh anjing berkisar antara 3-8 hari, sementara periode penyebaran virus terjadi 3 hari sebelum gejala klinis muncul (Sardjana dan Kusumawati 2004). Gejala klinis yang seringkali dialami oleh anjing yang terinfeksi virus ini berupa depresi, turgor kulit jelek, vomitus yang diikuti oleh diare profus atau hemorrhagia disertai mukus dalam 24-48 jam kemudian, demam tinggi (mencapai 40C atau lebih), anoreksia, dehidrasi, dan leukopenia. Muntahan terkadang berupa buih dan berisi cairan lambung, sementara feses memiliki bau busuk yang khas. Saya mendeskripsikan bau tersebut sebagai bau anyir. Selain itu, dapat pula terjadi dyspnea dan membrana mukosa tampak sangat pucat.

Prognosa terhadap kasus infeksi parvovirus biasanya buruk dengan angka kematian mencapai 15-90%. Bahkan anjing dapat mengalami kematian dalam kurun waktu 24 jam sejak gejala klinis terlihat. Pengobatan terhadap kasus ini hanya merupakan pengobatan simptomatis. Menurut Sardjana dan Kusumawati (2004), pengobatan yang diberikan dapat berupa terapi infus untuk mengatasi dehidrasi dan memperbaiki status keseimbangan cairan tubuh dengan pemberian cairan RL+dextrose 5% dengan dosis 40 ml/kg BB, pemberian antibiotik Ampicilin 25-50 mg/kg BB untuk mencegah infeksi sekunder, dan pemberian Antacida 0.5 mg/kg BB untuk memperbaiki fungsi lambung. Selain itu dapat pula diberikan obat anti emetik untuk mengatasi gejala muntah. Pemberian diuretik dan stimulan terhadap jantung dengan digitalis dapat membantu menanggulangi kasus subakut dan myocarditis ringan (Windarwati 1984). 
Perlu diperhatikan bahwa selama muntah belum berhenti, semua obat tidak dapat diberikan secara per oral. Oleh karena itu, hal pertama yang harus ditangani adalah muntah dan dehidrasi.

Diagnosa terhadap virus ini dilakukan dengan mengetahui riwayat penyakit anjing, anamnesa, isolasi virus dari feses untuk uji HA, uji HI dengan serum, FAT, pemeriksaan feses, jaringan dan isi usus dengan mikroskop elektron juga sangat membantu untuk mengidentifikasi partikel virus parvo. Selain itu, diagnosa dilakukan dengan melihat gejala klinis dan hasil pemeriksaan post mortem. Secara histopatologi, akan terlihat badan inklusi intranuklear basofilik pada bagian dasar kripta epitelium usus dan inti sel myokardium yang bersifat patognomonis untuk infek parvovirus (Jefferies dan Blakemore 1979).

Lalu, bagaimana cara mengetahui apakah anjing yang akan kita gunakan terinfeksi virus parvo atau tidak?

Secara kasat mata, mungkin kondisi ini tidak begitu jelas teramati. Namun seperti yang sudah dijelaskan berulangkali oleh drh. Dudung maupun drh. Riki, peran physical examination (pemeriksaan fisik) sebelum dilakukannya pembedahan merupakan hal yang krusial. Saya sebagai asisten praktikum mungkin tidak bisa mengamati satu per satu hewan yang akan digunakan oleh praktikan. Oleh karena itu, melalui tulisan ini saya menghimbau untuk lebih teliti lagi dalam melakukan pemeriksaan fisik hewan.

Perhatikan dan evaluasi pulsus, temperatur, dan respirasi anjing. Palpasi semua limfoglandula regional dan daerah abdomen. Anjing yang terinfeksi parvovirus umumnya akan mengalami kesakitan di daerah abdomen dan oleh karena itu, cenderung kifosis. Anak anjing yang cenderung depresi, anoreksia, mengalami peningkatan suhu, mengalami infeksi cacing, muntah, atau diare dengan bau yang khas harus segera ditangani dan dipisahkan dari anjing yang lain. Infeksi cacing atau koksidia merupakan predisposisi terhadap infeksi parvovirus.

Tanyakan kepada asisten praktikum atau dosen jika ada gejala yang tidak normal. Selain itu, sebaiknya anjing dievaluasi terlebih dahulu selama 3 hari-1 minggu sebelum dilakukan pembedahan.

Jangan lupa ketahui asal usul anjing, riwayat penyakit dan kondisi lingkungan tempat anjing dipelihara. Akan lebih baik lagi bila status vaksinasi anjing juga diketahui. Vaksin untuk parvovirus dapat diberikan pada usia 2 bulan ketika antibodi maternal dari induk sudah menjadi sedikit.

Sekian pembahasan parvovirus dari saya, semoga berguna. Viva veteriner!

Sumber bacaan:
Ettinger SJ. 1983. Canine Parvovirus. In Textbook of Veterinary Internal Medicine diseases of Dog and Cat, 2nd ed. Philadelphia: WB Saunders.
Jefferies AR, Blakemore WF. 1979. Myocarditis and enteritis in puppies associated with parvovirus. Vet.Rec. 104(10):221.
Moraillon A, Moraillon R. 1982. Distinction des parvovirus f61ins et canins par h6magglutination. Recueil
de mddecine vdt~rinaire 158, 799-804.
Sardjana IKW, Kusumawati D. 2004. Pengobatan infeksi parvovirus pada anjing. Berk.Penel.Hayati:10 (81-83),2004.
Windarwati EI. 1984. Parvovirus pada anjing [skripsi]. Institut Pertanian Bogor.