Ueno Zoo Part 1: Sistem Volunteer Tokyo Metropolitan Zoo

Beberapa minggu yang lalu saya berkesempatan untuk mengunjungi salah satu kebun binatang di wilayah Tokyo yang juga merupakan kebun binatang tertua di Tokyo, yaitu Ueno Zoo. Awalnya saya berniat pergi bersama teman satu profesi kedokteran hewan yang bernama Tsukasa, Taichi, dan Genki, namun apa daya mereka ternyata baru punya waktu kosong di atas jam 1 siang. Alhasil saya nekat pergi sendiri.
Pikir saya, ya elah, senyasar-nyasarnya di Tokyo kaya apa sih? Toh rute Yamanote line muter ini, nyasar juga nanti bakal balik lagi ke tempat yang sama. Maka begitu lah, berbekal selembar peta jalur kereta Tokyo yang seperti benang ruwet, saya pun berangkat menuju Ueno. Awalnya memang sempat salah arah kereta, namun akhirnya saya berhasil sampai dengan selamat di stasiun Ueno! Yeay!

Sesampainya di stasiun Ueno, terlihat banyak pasangan suami istri muda dengan balita di kanan kiri depan belakang disertai para manula. Nguping punya nguping, mereka semua berniat mengunjungi Ueno Zoo. Huah, ngantrinya aja udah kaya mau ngantri tiket konser. Untungnya loket di Ueno zoo tidak hanya loket manual, tapi ada juga beberapa vending machine untuk membeli tiket sesuai kebutuhan. Praktis! :)
Saya pun membeli tiket dewasa dari vending machine seharga 600 yen kemudian masuk ke dalam kebun binatang. Di dalam, saya langsung disodorkan peta kebun binatang dengan bahasa jepang oleh salah satu karyawan zoo. Karena masih ingin foto-foto plus malas baca kanji, akhirnya saya memutuskan untuk masuk ke zona terdekat yang belakangan saya ketahui bernama "Japanese bird exhibits". Di tempat ini saya sibuk foto-foto burung bulet putih gendut yang bernama ptarmigan. Apalagi di depan kandang burung tersebut ada pula sebundel informasi tentang burung ini, mulai dari asal usulnya, morfologi telurnya, pakannya, sampai cara inseminasi buatan dan penetasan buatannya. Hal ini jelas saya sambut dengan riang gembira, luar biasa sekali untuk sebuah kebun binatang untuk menampilkan informasi sedetail itu agar masyarakat umum bisa membacanya.

Burung ndut ini namanya ptarmigan, asal Norway tapi udah diadaptasi sama iklim Jepang

Saat saya sedang asyik mendokumentasikan bundelan informasi penuh ilmu tersebut, tiba-tiba seorang bapak yang merupakan pekerja di sana menghampiri saya sambil tersenyum. Beliau justru malah menawarkan saya untuk mendokumentasikan banyak file berisi informasi mengenai berbagai macam burung Jepang. Lama kelamaan, saya pun memberanikan diri untuk mengobrol lebih akrab dengan bapak tersebut. Beliau bercerita bahwa beliau pernah mengunjungi Indonesia sebanyak 4 kali, tepatnya mengunjungi Pulau Bali untuk kerjasama dengan salah satu taman nasional di Bali. Yap, Ueno Zoo bekerja sama dengan Taman Nasional Bali Barat untuk konservasi jalak bali. :)
Bapak baik hati kaya malaikat :3
Sayangnya, saya lupa nama bapak nan baik hati ini T__T
Namun melalui beliau, saya jadi tahu mengenai program volunteer di kebun binatang di Tokyo. Beliau bahkan dengan senang hati membawa saya ke pusat informasi dan ke bagian pendidikan untuk mencari informasi mengenai cara mendaftar menjadi volunteer. Saya bahkan sempat diinterview singkat oleh staf edukasi Ueno Zoo (dan sepertinya beliau langsung stress karena kemampuan bahasa Jepang saya nano-nano banget, campur bahasa Inggris). Yang lebih wow lagi, staf tersebut bahkan sampai merelakan waktunya untuk pengunjung cuma iseng nanya ini dan memberikan presentasi mendetail mengenai sistem volunteer di Tokyo metropolitan zoo! Terharu!! Bapaaakk makasih banyaaaaakk.... *kecup basah*
Diantar bapak baik hati ke kantor edukasi dan ketemu Iuchi-san

Kartu Visitor

So, supaya penjelasan Beliau tidak sia-sia, ada baiknya saya ceritakan sedikit untuk yang lainnya, terutama mahasiswa kedokteran hewan nih. Siapa tau ada yang kecipratan rezeki bisa tinggal di Tokyo, mungkin bisa siap-siap mendaftar. Hehe

Volunteer untuk Tokyo metropolitan zoo ada dua macam, yaitu volunteer di bagian edukasi dan volunteer di bagian pelayanan (service). Pendaftaran untuk volunteer ini dibuka setiap bulan April dan setiap peserta yang diterima akan menerima pelatihan plus masa kerja selama 6 bulan. Volunteer baru pun tetap akan dibimbing oleh para senior, sehingga pada saat bertugas pastinya akan dapat banyak pengalaman dan pengetahuan baru. 
Volunter bagian edukasi bertugas menjelaskan pengetahuan tentang satwaliar di kebun binatang itu kepada pengunjung melalui berbagai alat peraga, mulai dari kerangka hewan asli, telur, boneka dengan skala ukuran sesuai aslinya, bulu sayap, kacamata, kuis singkat dan lain-lain. Tujuannya tentu saja menanamkan rasa ingin tahu dan cinta akan satwaliar sejak dini, terutama pada anak-anak. Setiap harinya, akan ada demonstrasi berbeda dari setiap bagian. Hal ini untuk menghindarkan rasa bosan bagi pengunjung, sekaligus mengajak pengunjung untuk kembali datang ke kebun binatang di hari berbeda. 
Para volunteer di bagian burung sedang mempersiapkan materi

Peragaan bulu sayap dan kacamata dengan lapang pandang menyerupai elang

Salah satu volunteer sedang menjelaskan tentang mata burung hantu
Demonstrasi menunjukkan rentang sayap elang pada anak-anak
Menjadi volunteer edukasi tentu sangat bermanfaat untuk mengasah pengetahuan kita mengenai satwaliar dan juga cara mengajarkan wawasan yang kita punya kepada masyarakat awam dalam bahasa sederhana. Singkat kata, skill berkomunikasi. Menurut saya, ini merupakan skill yang kurang diasah untuk mahasiswa kedokteran hewan. Banyak mahasiswa yang pintar dan berwawasan luas, namun terkadang mengalami kesulitan dalam menyampaikan pentingnya masyarakat awam untuk juga menambah wawasan tentang hewan dalam bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti.

Sementara itu, volunter bagian service bertugas untuk mendampingi volunteer edukasi pada setiap kegiatan, mengawasi pengunjung agar tidak sembarangan memberi makan hewan di kebun binatang, memberikan informasi umum mengenai kebun binatang, sampai membantu mencari anak yang hilang di kebun binatang. Haha. Volunter bagian service lebih banyak bekerja dengan masyarakat umum dan karyawan tetap kebun binatang sehingga skill interpersonal untuk menjalin hubungan dan mutual understanding dengan rekan kerja sangat dibutuhkan. Melalui posisi ini, kita juga harus bisa bekerja dalam team dan menyokong pekerjaan orang lain, terutama para volunteer bagian edukasi.

Overall, program volunteer kebun binatang yang memang didukung oleh pemerintah Tokyo ini sangat bermanfaat sekali menurut saya, baik untuk pengunjung maupun para volunteer. Mungkin hal ini bisa menjadi contoh untuk kebun binatang di Indonesia. Oh ya, Ueno Zoo juga menerima magang untuk kedokteran hewan. Hanya saja harus 6 bulan dan harus bisa berbahasa Jepang. Info lebih lanjut langsung tanya ke saya ya. Anyone interested? :D

(Psstt... bahasan tentang Ueno Zoo masih ada lho! Bersambung dulu ya :D)